BULAN Ramadhan menyimpan satu malam yang sangat istimewa bagi umat Islam, yaitu malam Lailatul Qadar. Malam ini memiliki keutamaan luar biasa karena nilainya lebih baik dari seribu bulan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an.
Allah SWT berfirman:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Malam Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3).
Keutamaan tersebut menjadikan Lailatul Qadar sebagai malam yang sangat dinantikan oleh umat Islam. Pada malam ini, pahala ibadah dilipatgandakan, bahkan melebihi ibadah yang dilakukan selama lebih dari 80 tahun.
Lailatul Qadar diyakini terjadi pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, terutama pada malam-malam ganjil. Oleh karena itu, Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk meningkatkan ibadah pada waktu tersebut, seperti melaksanakan salat malam, membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan memperbanyak doa.
Selain itu, Rasulullah SAW juga mengajarkan doa khusus yang dianjurkan untuk dibaca saat malam Lailatul Qadar, yaitu:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan menyukai pengampunan, maka ampunilah aku.” (HR. Tirmidzi).
Doa ini menjadi bentuk penghambaan seorang hamba kepada Allah SWT, memohon ampunan atas segala dosa dan kesalahan yang telah dilakukan.
Momentum Lailatul Qadar juga menjadi kesempatan bagi setiap Muslim untuk melakukan introspeksi diri, memperbaiki hubungan dengan Allah, serta meningkatkan kualitas ibadah. Dengan memanfaatkan malam-malam terakhir Ramadhan secara maksimal, diharapkan setiap Muslim dapat meraih keberkahan dan ampunan dari Allah SWT.
Dengan demikian, sepuluh hari terakhir Ramadhan bukan sekadar penutup, tetapi justru menjadi puncak dari seluruh rangkaian ibadah yang dilakukan selama bulan suci. Umat Islam pun diharapkan tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk meraih kemuliaan Lailatul Qadar.







