BALIKPAPAN, Headlinews.id – Platform WPN-7 milik PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) mulai onstream sejak 23 Maret 2026, dengan dua sumur gas yang saat ini dalam tahap stabilisasi menuju target produksi 20 MMSCFD.
Keberhasilan ini merupakan bagian dari pengembangan Proyek Sisi Nubi Area of Interest 1-3-5 (SNB AOI 1-3-5) di lapangan lepas pantai Sisi Nubi, Wilayah Kerja Mahakam, Kalimantan Timur. Platform WPN-7 menjadi platform ketiga yang telah mencatatkan produksi dari total enam platform yang direncanakan dalam proyek tersebut.
Onstream Platform WPN-7 diawali dengan ramp-up sumur NB-701 pada 23 Maret 2026, yang kemudian mencatatkan produksi gas hingga 9,8 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) pada 25 Maret 2026. Selanjutnya, sumur NB-702 mulai onstream pada 26 Maret 2026 dengan capaian produksi mencapai 12,5 MMSCFD.
Saat ini, kedua sumur masih dalam tahap monitoring dan stabilisasi untuk mengoptimalkan produksi hingga mencapai target awal sebesar 20 MMSCFD. Capaian ini sesuai dengan rencana onstream pada akhir kuartal pertama 2026, dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan dan keandalan operasi.
Sebelumnya, dua platform lainnya dalam proyek yang sama, yakni WPS-4 dan WPS-5, telah lebih dulu beroperasi masing-masing pada 4 Desember 2025 dan 23 Februari 2026. Hal ini menunjukkan progres pengembangan lapangan yang berjalan secara konsisten dan terintegrasi.
General Manager PHM, Setyo Sapto Edi, menegaskan keberhasilan ini menjadi bukti komitmen perusahaan dalam menjalankan operasi hulu migas yang selamat, andal, dan berkelanjutan.
“Keberhasilan ini menunjukkan kesiapan PHM dalam mengoptimalkan potensi lapangan dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan dan keandalan operasi. Setiap tahapan proyek hulu migas ini kami jalankan dengan disiplin tinggi untuk memastikan operasi berjalan selamat, efektif, dan efisien,” ujarnya.
Ia menambahkan, proses onstream dilakukan melalui tahapan teknis yang ketat untuk menjamin keandalan fasilitas sejak awal produksi.
“Seluruh tahapan, mulai dari pengujian sistem hingga proses ramp-up sumur, kami pastikan berjalan sesuai prosedur agar produksi dapat dicapai secara optimal dan berkelanjutan,” jelasnya.
Setyo juga menekankan tambahan produksi dari kedua sumur baru ini diharapkan memberikan kontribusi nyata terhadap pasokan energi nasional.
“Dengan capaian produksi awal hingga 20 MMSCFD, sumur NB-701 dan NB-702 diharapkan berkontribusi signifikan dalam menjaga stabilitas pasokan gas, sekaligus mendukung upaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional,” lanjutnya.
Keberhasilan onstream Platform WPN-7 merupakan hasil dari rangkaian persiapan komprehensif oleh seluruh tim yang terlibat. Berbagai pengujian telah dilaksanakan, mulai dari tes Emergency Shutdown (ESD) untuk memastikan sistem proteksi berjalan optimal, hingga leak test menggunakan nitrogen guna menjamin integritas fasilitas tanpa paparan hidrokarbon.
Dalam operasionalnya, sumur NB-701 dan NB-702 dioperasikan menggunakan metode controlled ramp-up, yaitu peningkatan produksi secara bertahap melalui pengaturan choke guna menjaga stabilitas tekanan dan aliran.
Gas yang diproduksikan kemudian dialirkan melalui Sand Filter Unit untuk menyaring partikel padat, sehingga mendukung keandalan fasilitas dan keberlanjutan operasi jangka panjang.
“Metode ini memungkinkan kami menjaga stabilitas produksi sekaligus memastikan keselamatan operasi tetap menjadi prioritas utama,” tambah Setyo.
Keberhasilan ini turut memperkuat kinerja awal tahun PHM sekaligus mendukung visi perusahaan dalam menjaga keberlanjutan produksi migas guna menunjang ketersediaan dan ketahanan energi nasional, sejalan dengan target pemerintah dalam mewujudkan kemandirian energi. (*)










