TARAKAN, Headlinews.id – Pengalaman menjadi korban bullying masih menjadi persoalan yang dihadapi sebagian peserta didik Program Pendidikan Kesetaraan Paket A, B, dan C di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Satuan Pendidikan Nonformal (SPNF) Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Tarakan.
Kondisi tersebut mendorong sekolah memasukkan materi pencegahan bullying dalam rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Kepala UPT SPNF SKB Kota Tarakan, Patmaria Krisnova Levryn, mengatakan materi pencegahan bullying diberikan melalui kerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan.
Materi dipilih dengan mempertimbangkan latar belakang peserta didik pendidikan kesetaraan yang datang dengan berbagai persoalan sebelum melanjutkan pendidikan di SKB.
“Kita tahu dengan posisi anak-anak di sini, anak-anak putus sekolah dengan berbagai permasalahan. Karena itu kami memberikan materi-materi seperti ini. Tujuannya untuk membekali mereka agar persoalan yang sama tidak kembali terjadi,” ujarnya.
Menurut Patmaria, edukasi yang diberikan tidak hanya menjelaskan pengertian dan dampak bullying, tetapi juga langkah-langkah pencegahan, cara menyikapi apabila menjadi korban, hingga membangun keberanian peserta didik untuk melaporkan atau mencari bantuan ketika mengalami perundungan.
Materi disampaikan bersama narasumber dari Dinas Pemberdayaan Perempuan yang memberikan pemahaman mengenai bentuk-bentuk bullying, dampaknya terhadap korban, serta langkah pencegahan agar tercipta lingkungan belajar yang aman dan saling menghargai.
Ia mengungkapkan, materi tersebut dipandang penting karena sebagian besar peserta didik yang mengikuti pendidikan kesetaraan di SKB pernah mengalami perundungan di lingkungan sekolah sebelumnya.
“Kenapa kami mengangkat materi bullying? Karena anak-anak yang masuk di sini pun sebagian besar adalah korban bullying. Jadi, mereka juga perlu tahu ketika pernah merasakan menjadi korban, di sini mereka harus bagaimana, pencegahannya seperti apa, dan apa yang harus mereka lakukan supaya hal seperti itu tidak terjadi lagi,” katanya.
Patmaria menambahkan, peserta didik tidak hanya dibekali pemahaman mengenai dampak bullying, tetapi juga diajak belajar dari pengalaman yang pernah mereka alami agar tidak menjadi pelaku maupun membiarkan tindakan perundungan terjadi di lingkungan belajar.
“Supaya mereka tahu juga ketika mereka pernah merasakan, di sini mereka harus bagaimana. Pencegahannya seperti apa, apa yang harus mereka lakukan. Itu yang ingin kami sampaikan kepada mereka,” tuturnya.
Pembekalan selama MPLS, lanjut Patmaria, tidak hanya berorientasi pada pengenalan lingkungan belajar, tetapi juga membantu peserta didik membangun kembali rasa aman dan kepercayaan diri setelah memutuskan melanjutkan pendidikan melalui program kesetaraan.
Menurutnya, pemahaman mengenai bullying diharapkan mampu mendorong peserta didik menciptakan lingkungan belajar yang saling menghargai serta menghindari tindakan perundungan terhadap teman sebaya.
“Ketika mereka sudah mengetahui dampaknya dan pernah merasakan sendiri, kami berharap mereka bisa saling menjaga. Jangan sampai pengalaman yang pernah mereka alami justru terulang lagi di lingkungan belajar yang baru,” ucapnya.
Materi pencegahan bullying menjadi salah satu agenda dalam MPLS yang berlangsung selama empat hari. Selain pembekalan tersebut, peserta didik juga mengikuti materi lain yang disesuaikan dengan karakter pendidikan kesetaraan, di antaranya pembangunan karakter, edukasi bahaya penyalahgunaan narkoba, pencegahan HIV/AIDS, hingga pengenalan sistem pembelajaran di SKB.
Patmaria berharap rangkaian MPLS tidak hanya membantu peserta didik beradaptasi dengan lingkungan belajar baru, tetapi juga menjadi bekal dalam menghadapi berbagai tantangan di lingkungan pergaulan.
“Harapan kami mereka bisa kembali semangat belajar, merasa diterima di lingkungan yang baru, dan memiliki bekal untuk menghadapi persoalan yang mungkin ditemui dalam kehidupan sehari-hari,” tutupnya. (*/saf)










