PIDIE JAYA, Headlinews.id – Informasi mengenai bullying, hoaks, narkoba hingga kesiapsiagaan bencana kini dapat dibaca masyarakat di Kantor Geuchik Gampong Cut Langien, Kecamatan Bandar Baru, Kabupaten Pidie Jaya. Materi tersebut dikemas mahasiswa KKN Universitas Syiah Kuala (USK) Kelompok Reguler 11 Periode XXIX melalui mading edukatif.
Mading yang diperbarui pada Senin (3/8/2026) itu dipenuhi poster dengan tampilan visual sederhana. Lokasinya yang berada di lingkungan kantor geuchik membuat materi tersebut dapat diakses masyarakat maupun anak-anak yang datang ke area tersebut.
Ketua Kelompok KKN USK Reguler 11, Ari Maulana, mengatakan pemilihan mading sebagai media edukasi dilakukan agar informasi dapat dibaca masyarakat secara mandiri tanpa harus menunggu kegiatan sosialisasi.
“Mading dipilih karena tempatnya terbuka dan bisa dibaca kapan saja. Masyarakat tidak harus menunggu ada kegiatan untuk mendapatkan informasi. Ketika datang ke kantor geuchik, mereka bisa melihat dan membaca materi yang tersedia,” ujar Ari.
Empat tema ditempatkan dalam poster yang berbeda. Materi bullying mengajak anak-anak mengenali perilaku seperti mengejek, mengucilkan, mengancam maupun menyakiti teman sebagai tindakan yang tidak patut dilakukan.
“Anak-anak perlu memahami kalau mengejek, mengucilkan atau menyakiti teman bukan hal yang bisa dianggap sebagai candaan biasa. Dari materi ini, mereka dikenalkan pada pentingnya menghargai teman sejak dini,” katanya.
Poster mengenai hoaks mengajak masyarakat membangun kebiasaan memeriksa informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Beberapa langkah yang dikenalkan di antaranya mengecek sumber informasi dan membandingkan kabar dari sumber lain.
“Informasi yang diterima sebaiknya tidak langsung dipercaya atau dibagikan. Kebiasaan memeriksa sumber dan membandingkan informasi perlu dibangun agar masyarakat tidak mudah terpengaruh kabar yang belum jelas,” jelas Ari.
Materi lainnya membahas bahaya penyalahgunaan narkoba dan hukum kebencanaan. Edukasi narkoba diarahkan untuk meningkatkan kewaspadaan generasi muda, sedangkan materi kebencanaan mengenalkan kesiapsiagaan, perlindungan masyarakat, serta hal-hal yang berkaitan dengan penanggulangan bencana.
Menurut Ari, materi sengaja dibuat singkat dengan bahasa yang mudah dipahami agar pesan dapat ditangkap pembaca dalam waktu singkat. Tampilan visual juga digunakan untuk membuat informasi lebih menarik, terutama bagi anak-anak.
“Materinya sengaja dibuat singkat dengan bahasa yang mudah dipahami. Harapannya, orang yang hanya berhenti sebentar di depan mading tetap bisa menangkap pesan utama yang disampaikan,” ujarnya.
Keberadaan mading tersebut juga diharapkan tidak berhenti sebagai program selama mahasiswa berada di Gampong Cut Langien. Poster yang sudah dipasang dapat tetap menjadi bahan bacaan setelah rangkaian KKN berakhir.
“Setelah mahasiswa selesai KKN, mading ini tetap bisa dimanfaatkan. Poster yang ada dapat menjadi bahan bacaan sekaligus pengingat bagi masyarakat dan anak-anak mengenai persoalan yang dekat dengan kehidupan mereka,” kata Ari.
Geuchik Gampong Cut Langien, Muhammad Syahril, S.Pd., mengapresiasi penggunaan mading sebagai sarana edukasi. Menurutnya, keberadaan poster tersebut memberi fungsi tambahan pada papan informasi yang berada di kantor geuchik.
“Mading ini memberikan fungsi tambahan bagi papan informasi gampong. Masyarakat yang datang ke kantor geuchik sekarang memiliki bahan bacaan yang ringan, tetapi isinya berkaitan dengan persoalan yang penting,” ujar Muhammad Syahril.
Ia berharap mading tersebut tetap dirawat dan dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan materi lain yang dibutuhkan masyarakat. Dengan begitu, papan informasi tersebut tidak hanya digunakan untuk pengumuman administrasi gampong.
“Kalau ada informasi atau materi edukasi lain yang penting untuk masyarakat, ruang seperti ini bisa terus dimanfaatkan. Yang penting informasinya mudah dipahami dan memberikan manfaat,” katanya.
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Muhammad Sayuthi, S.P., M.P., menilai kegiatan tersebut menunjukkan pendekatan sederhana dalam pengabdian mahasiswa. Materi yang dipilih juga dinilai dekat dengan persoalan yang dihadapi masyarakat sehari-hari.
“Kegiatan ini memperlihatkan pengabdian kepada masyarakat bisa dimulai dari kebutuhan yang sederhana. Mading mudah dijangkau, sehingga informasi yang ditempatkan di sana berpeluang dibaca lebih banyak orang,” kata Muhammad Sayuthi.
Menurutnya, penggunaan media visual di ruang publik dapat membantu memperluas akses masyarakat terhadap informasi. Edukasi tidak harus selalu disampaikan dalam forum formal, selama materi disusun dengan bahasa yang mudah diterima.
“Ketika informasi ditempatkan di ruang yang biasa didatangi masyarakat, kesempatan untuk membacanya menjadi lebih besar. Ini menjadi cara sederhana untuk memperkenalkan pengetahuan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Program tersebut turut mendukung SDGs Desa ke-4 tentang Pendidikan Desa Berkualitas, khususnya dalam memperluas akses pengetahuan dan edukasi bagi masyarakat. Kegiatan ini juga berkaitan dengan SDGs Desa ke-16 tentang Desa Damai Berkeadilan, melalui penguatan kesadaran hukum, pencegahan kekerasan, dan peningkatan literasi informasi di tingkat gampong.
Mading di Kantor Geuchik Gampong Cut Langien kini tidak hanya berisi informasi, tetapi juga menjadi ruang baca sederhana bagi masyarakat. Materi tentang hukum, keselamatan, pergaulan dan literasi informasi ditempatkan dalam bentuk poster agar dapat dipahami secara lebih mudah oleh berbagai kelompok usia. (*/saf)










