PAGI Idulfitri selalu datang dengan suasana yang berbeda. Udara terasa lebih tenang, gema takbir masih menggantung di langit, dan langkah-langkah umat Muslim mengarah ke satu tujuan—menunaikan sholat Ied. Di balik semua itu, ada makna mendalam yang tidak sekadar ritual tahunan.
Idulfitri bukan hanya tentang hari kemenangan, tetapi juga tentang kembali kepada fitrah. Sebulan penuh menahan lapar, menjaga lisan, dan menata hati, kini ditutup dengan rasa syukur yang diwujudkan dalam ibadah.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan hendaklah kamu menyempurnakan bilangannya (puasa), dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185).
Ayat ini menjadi penegasan bahwa setelah menyempurnakan ibadah puasa, umat Islam dianjurkan untuk mengagungkan Allah melalui takbir dan mengekspresikan rasa syukur. Tak heran jika malam hingga pagi Idulfitri dipenuhi lantunan takbir yang menggema di masjid, jalanan, hingga rumah-rumah.
Di pagi hari, persiapan menuju sholat Ied pun dimulai. Ada yang bangun lebih awal untuk mandi, mengenakan pakaian terbaik, hingga menyantap hidangan ringan sebelum berangkat. Semua dilakukan bukan sekadar tradisi, melainkan bagian dari sunnah yang mengandung makna kebersihan, kesiapan, dan penghormatan terhadap hari besar umat Islam.
Di sudut lain, ada yang memastikan zakat fitrah telah ditunaikan. Sebuah kewajiban yang menjadi simbol penyucian diri sekaligus kepedulian sosial. Sebab, kebahagiaan Idulfitri sejatinya harus dirasakan oleh semua, tanpa terkecuali.
Langkah kaki menuju lapangan atau masjid tempat sholat Ied menjadi perjalanan yang sarat makna. Ada kebersamaan, ada harapan, dan ada doa yang diam-diam dipanjatkan. Bahkan, dalam setiap langkah itu, terselip keinginan untuk menjadi pribadi yang lebih baik setelah Ramadhan berlalu.
Al-Qur’an juga mengingatkan:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّىٰ وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّىٰ
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri, mengingat nama Tuhannya, lalu dia salat.” (QS. Al-A’la: 14–15).
Ayat ini seolah menggambarkan rangkaian Idulfitri—menyucikan diri, berdzikir, lalu menunaikan sholat. Sebuah kesatuan yang tidak terpisahkan antara spiritualitas dan tindakan nyata.
Pada akhirnya, sholat Ied bukan sekadar penutup Ramadhan, tetapi awal dari perjalanan baru. Sebuah komitmen untuk menjaga nilai-nilai yang telah dilatih selama sebulan penuh—kesabaran, kejujuran, kepedulian, dan kedisiplinan.
Ketika takbir perlahan mereda dan umat mulai bersalaman, ada satu harapan yang sama: semoga hati tetap bersih, langkah tetap lurus, dan Ramadhan tidak benar-benar pergi dari kehidupan sehari-hari.
Yang Dianjurkan Sebelum Sholat Ied
– Mandi dan bersuci
Membersihkan diri sebelum berangkat sebagai bentuk kesiapan lahir untuk beribadah.
– Memakai pakaian terbaik
Tidak harus baru, yang penting bersih, rapi, dan pantas sebagai bentuk penghormatan di hari raya.
– Menggunakan wewangian (bagi laki-laki)
Agar lebih segar dan nyaman saat berkumpul dengan jamaah.
– Makan sebelum berangkat (Idulfitri)
Disunnahkan makan terlebih dahulu, biasanya dengan kurma, sebagai tanda berakhirnya puasa.
– Menunaikan zakat fitrah
Wajib ditunaikan sebelum sholat Ied sebagai penyucian diri dan bentuk kepedulian sosial.
– Memperbanyak takbir
Dilakukan sejak malam hingga menjelang sholat sebagai bentuk pengagungan kepada Allah SWT.
– Berangkat lebih awal
Agar bisa mendapatkan tempat yang baik dan mengikuti ibadah dengan khusyuk.
– Berjalan kaki (jika memungkinkan)
Menjadi sunnah yang dianjurkan, sekaligus menambah nilai ibadah.
– Mengambil jalan berbeda saat pulang
Sunnah Rasulullah SAW yang memiliki makna memperluas syiar Islam.
– Meluruskan niat
Menjadikan sholat Ied sebagai ibadah, bukan hanya tradisi tahunan.








