BALIKPAPAN, Headlinews.id– Persoalan sampah di Kota Balikpapan kian menjadi tantangan serius seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi. Setiap hari, tak kurang dari 650 ton sampah dihasilkan warga kota, yang sebagian besar masih bermuara ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Manggar. Kondisi ini membuat kapasitas TPA semakin terbatas dan rawan penuh dalam waktu dekat.
Untuk menjawab persoalan tersebut, Pemerintah Kota Balikpapan melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) kini mempercepat pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST).
Fasilitas ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada TPA sekaligus memperkuat sistem pengelolaan sampah berbasis 3R (reduce, reuse, recycle).
Kepala DLH Balikpapan, Sudirman Djayaleksana, menyebutkan bahwa target nasional pengurangan sampah 50 persen hingga kini baru tercapai sekitar 30 persen di Balikpapan. Masih ada selisih 20 persen yang harus segera dikejar.
“Kalau hanya mengandalkan TPA, umur fungsinya tidak akan panjang. Karena itu, pembangunan TPST menjadi solusi utama untuk mempercepat capaian target,” jelas Sudirman, Jumat (22/8/2025).
Empat TPST Baru
Sudirman memaparkan, tahun ini satu TPST baru di kawasan Kota Hijau, Gunung Guntur, segera beroperasi. Pada 2026, pemerintah akan menambah tiga TPST lainnya di Graha Indah, Telagasari, dan Kilometer 12. Seluruh fasilitas tersebut dirancang agar sampah tidak lagi langsung ditimbun, melainkan dipilah dan diolah agar memiliki nilai guna.
Dengan adanya TPST, volume sampah yang masuk ke TPA diharapkan bisa berkurang signifikan. “Sampah bisa diolah menjadi kompos, energi, atau bahkan produk daur ulang. Jadi ada nilai tambah, bukan sekadar menimbun,” tambahnya.
Kondisi TPA Manggar
Saat ini, TPA Manggar masih menjadi satu-satunya lokasi penampungan akhir sampah di Balikpapan. Namun, seiring pertambahan volume sampah, kapasitas lahan kian terbatas. Tanpa langkah strategis, umur fungsional TPA diperkirakan tidak akan lama lagi.
“Rata-rata 650 ton sampah masuk setiap hari. Kalau terus seperti ini, dalam hitungan tahun TPA bisa penuh. Padahal membangun TPA baru tidak mudah, butuh lahan luas dan biaya besar,” kata Sudirman.
Sehingga, pembangunan TPST dianggap lebih realistis dan berkelanjutan. Pemerintah pun berupaya melibatkan swasta dalam pengelolaan sampah, termasuk memanfaatkan skema investasi berbasis pengolahan energi dari sampah.
Menuju Kota Hijau
Balikpapan sendiri sejak lama dikenal sebagai kota dengan komitmen lingkungan yang tinggi. Sejumlah penghargaan Adipura berhasil diraih berkat kerja sama pemerintah dan masyarakat dalam menjaga kebersihan. Namun, tantangan pengelolaan sampah di masa depan dinilai semakin berat.
“Keberhasilan pembangunan TPST nantinya akan sangat menentukan wajah Balikpapan ke depan. Kalau kita bisa mengurangi sampah setengahnya, bukan hanya target nasional yang tercapai, tetapi juga kualitas hidup warga meningkat,” tutur Sudirman.
Ia berharap, dukungan masyarakat terhadap program TPST bisa berjalan seiring dengan penguatan bank sampah di tingkat kelurahan.
“Teknologi dan fasilitas penting, tapi tanpa kesadaran warga untuk memilah sampah, semua akan sia-sia,” pungkasnya. (*)